batok kelapa(ANTARA/Oky Lukmansyah)

Jakarta (ANTARA News) - Krisis ekonomi yang terjadi di sejumlah negara Eropa dan Amerika Serikat merupakan peluang pasar bagi produk-produk usaha kecil dan menengah Indonesia, demikian disampaikan Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Rhenald Kasali.

"Penurunan daya beli masyarakat Eropa dan Amerika Serikat berakibat pada perubahan konsumsi seperti memilih menggunakan batok kelapa sebagai bahan bakar pemanggang (barbecue) dibanding gas," kata Rhenald Kasali selepas peluncuran buku 'Cracking Entrepreneurs' di Jakarta, Kamis.

Rhenald mengatakan batok kelapa dapat menjadi salah satu komoditas ekspor potensial bagi pengusaha kecil dan menengah Indonesia disamping produk-produk lain seperti sepatu dan kerajinan.

"Saya sudah melihat produk-produk usaha kecil dan menengah (UKM) masuk di pasar Eropa, tapi yang membawa masuk itu orang Eropa sedang orang Indonesia masih pasif," kata Rhenald.

Strategi promosi ke luar negeri dengan melakukan perjalanan internasional, menurut pebisnis sosial (social entrepreneurs) itu, belum dilakukan pelaku usaha kecil di tanah air.

"Persepsinya adalah perjalanan internasional itu mahal. Itu benar kalau perjalanannya pada musim liburan. Padahal pergi ke luar negeri itu bagian dari investasi sebagaimana membeli mesin," kata Rhenald.

Rhenald mengatakan perdagangan elektronik (e-commerce) dapat menjadi alternatif promosi produk ke luar negeri meskipun terdapat sejumlah kendala.

"Sistem pembayaran di Indonesia belum banyak diakui secara global karena masih banyak penipuan dan para pembeli lewat e-commerce merupakan para penjual lagi yang bisa mengendalikan nilai jual," kata Rhenald.

Rhenald menambahkan solusi kendala transaksi perdagangan elektronik yaitu dengan kepemilikan silang antara eksportir dan importir.

"(Contohnya) Importir memiliki saham di produsen atau eksportir dan produsen menguasai perdagangan sehingga terdapat jaminan pasar dan jaminan suplai produk di antara keduanya," kata Rhenald.

(I026)

Editor: Aditia Maruli